Jual Plate bearing - Plate bearing - Cara pengoprasian plate bearing - kelengkapan dari plate bearing.
Uji Plate
Bearing (juga dikenal sebagai Plate
Load Test) berdasarkan standar ASTM D1194 atau AASHTO T-235 adalah metode pengujian lapangan untuk
menentukan daya dukung batas (ultimate
bearing capacity) tanah dan modulus reaksi tanah dasar (subgrade reaction).
Berbeda dengan Sondir yang mengukur perlawanan tanah
terhadap ujung konus kecil, Plate Bearing menyimulasikan beban pondasi
sesungguhnya menggunakan pelat baja lebar.
Prinsip Kerja Utama
Prinsip dasarnya adalah
memberikan beban statis ke permukaan tanah melalui pelat baja secara bertahap, kemudian
mengukur besarnya penurunan (settlement)
yang terjadi pada setiap tahap pembebanan tersebut.
A. Tahapan Cara Kerja
1.
Persiapan Lokasi: Permukaan tanah diratakan.
2. Pemasangan Pelat: Pelat baja (biasanya diameter 30 cm,
45 cm, atau 60 cm) diletakkan di titik uji.
3. Sistem Reaksi: Karena alat akan menekan tanah ke
bawah, dibutuhkan "beban lawan" agar alat tidak terangkat.
4. Pembebanan Bertahap: Beban diberikan menggunakan
dongkrak hidrolik secara bertahap (misalnya per 25% dari beban rencana).
5. Pencatatan Dial Gauge: Dial gauge (alat ukur ketelitian 0,01 mm) mencatat
seberapa dalam pelat amblas ke tanah pada setiap tahap beban.
6.
Unloading: Setelah beban maksimum tercapai, beban dilepaskan bertahap
untuk melihat kemampuan tanah kembali ke bentuk semula (rebound).
B. Komponen Alat (Sesuai ASTM D1194)
·
Bearing Plates: Set pelat baja
melingkar dengan berbagai ukuran (6", 12", 18", 24",
30") dengan ketebalan minimal 1 inci agar tidak melengkung saat ditekan.
·
Hydraulic
Jack: Dongkrak dengan kapasitas besar (umumnya 30–50 ton) dilengkapi
manometer.
·
Reference Beam: Balok
referensi tempat memasang dial
gauge agar pengukuran penurunan tidak terpengaruh oleh gerakan alat di
sekitarnya.
· Dial Indicators: Minimal 2 atau 3 unit yang dipasang di tepi pelat untuk merata-ratakan nilai penurunan jika pelat sedikit miring.
C. Apa Hasil yang Didapat?
Dari hasil uji ini, Anda akan
mendapatkan Kurva Beban vs
Penurunan (Load-Settlement
Curve).
·
Daya
Dukung Ijin (Allowable Bearing Capacity): Beban maksimum yang aman bagi
bangunan tanpa risiko keruntuhan tanah.
· Modulus Reaksi Subgrade (k): Sangat penting untuk desain perkerasan jalan kaku (rigid pavement) atau pelat lantai beton di atas tanah.
D. Perbedaan ASTM D1194 vs AASHTO T-235
Secara teknis keduanya hampir identik dalam prosedur
lapangan. Perbedaan utamanya adalah ASTM D1194 lebih sering dirujuk untuk desain pondasi
gedung (pondasi dangkal), sedangkan AASHTO T-235 lebih umum digunakan dalam konteks
desain perkerasan jalan raya dan jembatan.
Catatan: ASTM D1194 secara resmi telah ditarik (withdrawn) oleh ASTM International tanpa pengganti langsung, namun dalam praktik lapangan di Indonesia, standar ini masih sangat umum dijadikan acuan teknis karena metodenya yang sudah sangat mapan.

.png)